Sabtu, 23 November 2013

FAULT

Kini semuanya telah berubah dan seperti tanah yang tergerus oleh air hujan. Hilang. Sejak saat itu, saat semuanya telah berbeda aku hanya bisa terdiam dan terdiam. Aku mencoba menghindar, tapi bayanganmu tak terhindarkan oleh pandanganku. Aku mencoba menjauh tapi hati ini terlalu terbiasa untuk selalu memanggil manggil namamu.

Entah apa yang salah, aku pun tak tahu. Dari awal memang seharusnya tidak ada yang ditutupi. Namun, aku memikirkan dirimu dan... juga hatimu. Yaa, hatimu yang masih saja untukku. Tapi mungkin setelah ini hatimu tidak lagi untukku. Aku tau itu.

Kau, berjalan lurus kedepan tanpa menoleh sedikitpun kearahku. Aku hanya bisa melihat punggungmu yang perlahan semakin menjauh dari pandangan mataku. Dan semakin lama punggung itu samar samar menghilang hingga menjadi sebuah titik dan tak terlihat lagi. Entah aku harus bagaimana, aku hanya ingin seperti dahulu walaupun rasanya sulit. Jika memang ini semua kesalahanku, sebagai manusia yang tak selalu benar aku meminta maaf. Tapi, aku mencoba layaknya seperti orang dewasa yang sedang menyikapi suatu masalah.

Namun, rasanya sulit melihatmu tersenyum dari kejauhan karena orang lain dan ini jauh lebih menyakitkan daripada melihatmu bersama orang lain. Aku tak memaksamu untuk seperti sedia kala, aku hanya ingin semuanya tanpa ada kesalahpahaman yang tidak terselesaikan. Setidaknya aku sudah berani mengakui semuanya, dan keputusan ada sepenuhnya ditanganmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar