Berkorban. Yaa selama ini kita sering mendengar kata itu atau bahkan banyak terucap. Namun tidak semua orang tau rasanya berkoban hingga berkali kali itu seperti apa. Tidak ada yang tau juga berkorban tanpa diprioritaskan itu sangat menyayat hati. Ketika kita sudah mau rela berkorban, kita akan berkorban semampu kita atau malah berjuang demi orang tersebut. Tapi ketika pengorbanan itu teracuhkan, rasanya semua sia sia. Sia sia semua peluh yang bercucuran, sia sia semua yang kita korbankan.
Aku bagai manusia bodoh yang selalu mengorbankan perasaan untuk orang yang belum tentu sebaliknya. Aku lelah. Aku ingin lari dari kenyataan ini, namun tetap saja aku tidak bisa. Aku hanya bisa diam ditempat. Aku hanya bisa menguatkan diri sendiri dan berbisik kepada hatiku "Aku kuat, aku tak apa. Jika mereka bahagia, aku harus bisa mengorbankan dan berkorban (lagi)"
Namun terkadang kata kata itu hanya bertahan beberapa saat saja. Setelah melihat mereka, kembalilah hati ini tergores. Lalu luka itu pun kembali menganga. Perih. Aku seperti orang yang paling menyedihkan. Rasanya kebahagiaanku terenggut ketika melihat hal apapun tentang mereka berdua. Mengapa begitu sulit melepaskan seseorang tuhan? Mengapa begitu sulit perasaan ini untuk sirna? Aku sudah berusaha tegar, namun ketegaranku selalu runtuh begitu saja. Aku ingin dia tahu, namun aku tidak bisa memberitahunya. Siapalah aku ini? Aku cukup tahu diri untuk tidak mengatur hidup siapa pun termasuk dia. Biarlah aku menikmati perasaan yang hancur berkeping keping ini sendirian. Iya sendirian. Atau bahkan balik mengaguminya seperti dahulu.
Tapi rasa cemburu ini kian lama kian menyiksa diriku sendiri. Aku tidak sanggup tuhan jika harus seperti ini. Aku rapuh. Aku bukan siapa siapa, aku harusnya tidak seperti ini. Beritahu aku caranya agar aku bisa tahu diri. Agar aku tidak menjadi penghalang siapapun. Jika boleh jujur, aku belum sanggup jika harus merelakannya. Namun aku harus merelakannya demi kebaikan semua. Mungkin ini saatnya aku mencari kebahagiaanku yang lain. Tapi bagaimana?
Apakah ini saatnya lembaran ini ditutup rapat? Entahlah
"Cinta memang harus belajar merelakan, sesakit apapun kita harus mencobanya. Walaupun memang sulit."
Selasa, 11 Maret 2014
Kamis, 20 Februari 2014
Hai Kumbang
Hai kumbang? Bagaimana kabar sibunga? Apakah baik atau malah
sebaliknya?
Disini akan kuceritakan padamu tentang semuanya. Iya semua. Lama lama kita sama yah, selalu menghampiri tanpa pernah dihampiri. Betapa sedihnya kisah kita. Padahal aku tahu, bunga pun menyukaimu namun karena keadaan dia tak bisa menghampirimu. Tidak jauh berbeda denganku, aku selalu menghampiri namun sepertinya kehadiranku selalu tidak diharapkan, aku kadang ditanggapi namun tidak jarang juga diabaikan. Apakah kehadiranku segitu tidak diinginkannya??? Aku berusaha memperhatikan namun sering kali terabaikan. Entah hanya perasaan ataukah memang benar seperti itu? Entahlah. Sekarang aku harus bagaimana kumbang? Kau begitu hebatnya bertahan meskipun kau selalu menghampiri tapi kau tak pernah lelah. Ajarkan aku untuk hebat sepertimu. Agar aku bisa bertahan. Agar aku tidak mudah menyerah hanya karena terabaikan. Aku berusaha acuh, tapi itu tidak berhasil. Malah membuat hati ini semakin tersayat-sayat. Rasanya perih. Aku berusaha merubah, namun perubahan itu tak digubris. Aku mencoba menahan perasaan yang berkecamuk ini, perasaan yang entah seperti apa. Tetap saja, lubuk hatiku berteriak meskipun tak bersuara namun aku tahu apa yang dia teriakkan. Dia berteriak karena memang dia tak sanggup lagi menahan semua perasaannya. Ia butuh sandaran. Ia lelah.
Senin, 13 Januari 2014
13 Januari 2014
Berapa banyak kata rindu yang harus tertulis pada kertas?
Berapa banyak kertas yang harus terpenuhi dengan kata-kata rindu?
Hingga rasanya jari-jari ini lelah hanya menulis dan menulis
Lelah karena terabaikan.
Berapa banyak waktu yang harus tertahan karena rindu
yang rasanya semakin menyesakkan dada
Harus berapa banyak airmata yang menetes hanya untuk menunggu
Menunggu yang belum pasti tertunggu
Rindu memang menyebalkan.Ia selalu datang kapan pun ia mau dan dimana pun tanpa memperdulikan situasi dan kondisi. Namun terkadang, karena rindulah yang semakin meyakinkan bahwa kita benar benar menyayangi orang yang kita rindukan. Tidak perduli orang yang dirindukan itu membalas.
Tapi, rindulah yang kadang membuat semuanya sulit. Semua menjadi serba salah. Diungkapkan saja belum tentu terbalaskan, apalagi jika dipendam, hanya membuat rindu ini semakin menjadi masalah besar yang tidak mempunyai ujung untuk diselesaikan.
Rindu bukan perkara mudah untuk dilalui sendiri tanpa pemeran pendamping. Layaknya pemeran dalam film yang harus ditemani oleh peran pendamping. rindu pun sama, jika hanya pemeran tanpa pendamping hanya akan membuat semuanya terasa lebih sulit untuk dilalui.
Namun terkadang permasalahannya bukan pada rindu. Namun pada masing masing yang hanya memikirkan gengsi. Sehingga rindu itu tersisihkan. Terkalahkan oleh rasa gengsi yang sangat amat besar. Hingga rindu hanya terlihat menyulitkan, padahal jika menyikapinya dengan hati yang sedikit lebih tenang dan tidak memikirkan gengsi, rindu itu tidak akan menyulitkan. Mungkin akan membuat semuanya terasa lebih Indah dan Nyaman.
*For everyone who's miss someone
Sabtu, 23 November 2013
FAULT
Kini semuanya telah berubah dan seperti tanah yang tergerus oleh air hujan. Hilang. Sejak saat itu, saat semuanya telah berbeda aku hanya bisa terdiam dan terdiam. Aku mencoba menghindar, tapi bayanganmu tak terhindarkan oleh pandanganku. Aku mencoba menjauh tapi hati ini terlalu terbiasa untuk selalu memanggil manggil namamu.
Entah apa yang salah, aku pun tak tahu. Dari awal memang seharusnya tidak ada yang ditutupi. Namun, aku memikirkan dirimu dan... juga hatimu. Yaa, hatimu yang masih saja untukku. Tapi mungkin setelah ini hatimu tidak lagi untukku. Aku tau itu.
Kau, berjalan lurus kedepan tanpa menoleh sedikitpun kearahku. Aku hanya bisa melihat punggungmu yang perlahan semakin menjauh dari pandangan mataku. Dan semakin lama punggung itu samar samar menghilang hingga menjadi sebuah titik dan tak terlihat lagi. Entah aku harus bagaimana, aku hanya ingin seperti dahulu walaupun rasanya sulit. Jika memang ini semua kesalahanku, sebagai manusia yang tak selalu benar aku meminta maaf. Tapi, aku mencoba layaknya seperti orang dewasa yang sedang menyikapi suatu masalah.
Namun, rasanya sulit melihatmu tersenyum dari kejauhan karena orang lain dan ini jauh lebih menyakitkan daripada melihatmu bersama orang lain. Aku tak memaksamu untuk seperti sedia kala, aku hanya ingin semuanya tanpa ada kesalahpahaman yang tidak terselesaikan. Setidaknya aku sudah berani mengakui semuanya, dan keputusan ada sepenuhnya ditanganmu.
Entah apa yang salah, aku pun tak tahu. Dari awal memang seharusnya tidak ada yang ditutupi. Namun, aku memikirkan dirimu dan... juga hatimu. Yaa, hatimu yang masih saja untukku. Tapi mungkin setelah ini hatimu tidak lagi untukku. Aku tau itu.
Kau, berjalan lurus kedepan tanpa menoleh sedikitpun kearahku. Aku hanya bisa melihat punggungmu yang perlahan semakin menjauh dari pandangan mataku. Dan semakin lama punggung itu samar samar menghilang hingga menjadi sebuah titik dan tak terlihat lagi. Entah aku harus bagaimana, aku hanya ingin seperti dahulu walaupun rasanya sulit. Jika memang ini semua kesalahanku, sebagai manusia yang tak selalu benar aku meminta maaf. Tapi, aku mencoba layaknya seperti orang dewasa yang sedang menyikapi suatu masalah.
Namun, rasanya sulit melihatmu tersenyum dari kejauhan karena orang lain dan ini jauh lebih menyakitkan daripada melihatmu bersama orang lain. Aku tak memaksamu untuk seperti sedia kala, aku hanya ingin semuanya tanpa ada kesalahpahaman yang tidak terselesaikan. Setidaknya aku sudah berani mengakui semuanya, dan keputusan ada sepenuhnya ditanganmu.
Just post
Layaknya alunan nada, rinduku pun ingin didengarkan.
Hanya saja, kau terlalu terbuai dengan kesibukanmu.
Kau tidak memperhatikan dan memperdulikan
rindu yang mengalun dengan indahnya
seperti...
nada nada yang tidak sengaja tercipta oleh alam bawah sadar.
Layaknya tanaman yang rindu akan siraman air,
aku pun sama rindu akanmu.
Merindu dan berharap terbalaskan,
seperti mengharapkan matahari dan bulan muncul secara bersamaan
atau...
menunggu bintang bermunculan disiang hari?
itu mustahil dan tidak akan pernah terjadi.
Tertahan dan terabaikan....
Hanya tinggal menunggu titik titik itu jatuh
Dan tetap saja sama, diacuhkan!
Tahukah kau sedang diperjuangkan?
Mengertikah kau sedang ditunggu?
Apa kau pura pura tidak tahu dan tidak mengerti??
Sabtu, 19 Oktober 2013
(Sinopsis)
Saat senja tiba, matahari pun
kembali pada peraduannya, meninggalkan semburatnya diawan yang hanya digoreskan oleh mega mega dan kian
berubah menjadi kelam. Tapi entah mengapa aku masih terduduk kaku dan termenung
menerawang keluar jendela memandangi awan kelam itu. Awan itu tidak indah
dilihat, bahkan tidak pantas untuk dipandangi. Tapi aku masih saja memandangi awan itu
karena... yaah karena hatiku yang sama seperti awan itu. Mengapa? Karena
hatiku sedang kelam, bahkan gelap gulita. Aku ingin beranjak, tapi tak kunjung
berpindah. Aku ingin berteriak tapi tak sedikitpun melontarkan suara. Aku
ingin lupa, tapi kepingan kepingan memori itu menggodaku. Seolah olah ia ingin
menarik perhatianku untuk memutar kembali serpihan serpihan masa lalu itu.
Jumat, 18 Oktober 2013
Rindu dan Penantian
Merindukan dan berharap rindu terbalaskan olehmu, layaknya seperti...
Yah, seperti mengharapkan matahari dan bulan muncul secara bersamaan atau...
Menunggu bintang bermunculan disiang hari, dan itu tidak akan pernah terjadi. Memikirkannya saja sudah hampir membuatku gila hingga aku tidak mempunyai keberanian dan alasan untuk membayangkannya lebih jauh lagi, karena bisa benar benar membuatku gila.
Rindu yang tertahan dan terabaikan ini
layaknya menunggu awan gelap menumpahkan titik titik airnya
saat itulah aku hanya menunggu dan menanti hingga titik titik air itu jatuh
Ketika tiba waktunya untuk titik titik air itu jatuh, aku hanya berharap sosok dirimu datang
Entah bagaimanapun caranya kau datang aku tak perduli, yang jelas agar rindu ini tidak terus menerus aku pendam sendiri dan aku bisa meluapkan semua emosi dan kerinduan yang terbengkalai ini
Kerinduan yang sudah lama tak terjamah
Kerinduan yang sudah lama tak kau lihat
Kerinduan yang sudah lama tak tergubris
Rasanya sudah lama semua rinduku tidak kau perhatikan, kau malah acuh tak acuh dengan rindu ini
Seakan akan rindu ini seperti kapas yang terbang karena tertiup dan terbawa entah kemana oleh hembusan angin, akhirnya kapas itu benar benar menghilang karena dibiarkan.
Tapi rinduku bukan kapas dan tidak seperti kapas yang begitu gampangnya terbang mengikuti kemana arah angin itu bertiup agar rinduku ini bisa enyah darimu
Rinduku tidak seringan kapas karena itu sekencang apapun angin yang kau tiupkan rinduku tidak akan terbang terbawa oleh angin yang kau tiupkan
Jika kau ingin tau seperti apa rinduku, aku akan jawab secara lantang bahwa rinduku seperti BATU
Kau tau bukan BATU itu seperti apa?
Sekecil apapun batu itu tidak akan terbawa oleh tiupan angin. sekalipun batu itu berada dipesisir pantai yang anginnya sangat kencang. Batu pun tidak akan berpindah jika tidak dipindahkan. Seperti rinduku, tidak akan berpindah pada orang lain jika kau tidak berusaha memindahkannya. Tapi rinduku tidak seperti batu kecil yang mudah kau pindah pindahkan, melaikan batu besar, jadi kau tidak akan bersusah payah memindahkan batu itu dengan tanpa alasan. Karena kau akan berpikir berulang kali untuk memindahkannya, karena untuk apa dipindahkan??
Tapi seperti yang kau tau, sekuat apapun batu itu lama kelamaan hingga pada waktunya batu itu akan terkikis.
Langganan:
Komentar (Atom)