Saat senja tiba, matahari pun
kembali pada peraduannya, meninggalkan semburatnya diawan yang hanya digoreskan oleh mega mega dan kian
berubah menjadi kelam. Tapi entah mengapa aku masih terduduk kaku dan termenung
menerawang keluar jendela memandangi awan kelam itu. Awan itu tidak indah
dilihat, bahkan tidak pantas untuk dipandangi. Tapi aku masih saja memandangi awan itu
karena... yaah karena hatiku yang sama seperti awan itu. Mengapa? Karena
hatiku sedang kelam, bahkan gelap gulita. Aku ingin beranjak, tapi tak kunjung
berpindah. Aku ingin berteriak tapi tak sedikitpun melontarkan suara. Aku
ingin lupa, tapi kepingan kepingan memori itu menggodaku. Seolah olah ia ingin
menarik perhatianku untuk memutar kembali serpihan serpihan masa lalu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar