Sabtu, 19 Oktober 2013

(Sinopsis)


Saat senja tiba, matahari pun kembali pada peraduannya, meninggalkan semburatnya diawan yang  hanya digoreskan oleh mega mega dan kian berubah menjadi kelam. Tapi entah mengapa aku masih terduduk kaku dan termenung menerawang keluar jendela memandangi awan kelam itu. Awan itu tidak indah dilihat, bahkan tidak pantas untuk dipandangi. Tapi aku masih saja memandangi awan itu karena... yaah karena hatiku yang sama seperti awan itu. Mengapa? Karena hatiku sedang kelam, bahkan gelap gulita.  Aku ingin beranjak, tapi tak kunjung berpindah. Aku ingin berteriak tapi tak sedikitpun melontarkan suara. Aku ingin lupa, tapi kepingan kepingan memori itu menggodaku. Seolah olah ia ingin menarik perhatianku untuk memutar kembali serpihan serpihan masa lalu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar