Sabtu, 19 Oktober 2013

(Sinopsis)


Saat senja tiba, matahari pun kembali pada peraduannya, meninggalkan semburatnya diawan yang  hanya digoreskan oleh mega mega dan kian berubah menjadi kelam. Tapi entah mengapa aku masih terduduk kaku dan termenung menerawang keluar jendela memandangi awan kelam itu. Awan itu tidak indah dilihat, bahkan tidak pantas untuk dipandangi. Tapi aku masih saja memandangi awan itu karena... yaah karena hatiku yang sama seperti awan itu. Mengapa? Karena hatiku sedang kelam, bahkan gelap gulita.  Aku ingin beranjak, tapi tak kunjung berpindah. Aku ingin berteriak tapi tak sedikitpun melontarkan suara. Aku ingin lupa, tapi kepingan kepingan memori itu menggodaku. Seolah olah ia ingin menarik perhatianku untuk memutar kembali serpihan serpihan masa lalu itu.

Jumat, 18 Oktober 2013

Rindu dan Penantian

Merindukan dan berharap rindu terbalaskan olehmu, layaknya seperti...
Yah, seperti mengharapkan matahari dan bulan muncul secara bersamaan atau... 
Menunggu bintang bermunculan disiang hari, dan itu tidak akan pernah terjadi. Memikirkannya saja sudah hampir membuatku gila hingga aku tidak mempunyai keberanian dan alasan untuk membayangkannya lebih jauh lagi, karena bisa benar benar membuatku gila.

Rindu yang tertahan dan terabaikan ini
layaknya menunggu awan gelap menumpahkan titik titik airnya
saat itulah aku hanya menunggu dan menanti hingga titik titik air itu jatuh
Ketika tiba waktunya untuk titik titik air itu jatuh, aku hanya berharap sosok dirimu datang
Entah bagaimanapun caranya kau datang aku tak perduli, yang jelas agar rindu ini tidak terus menerus aku pendam sendiri dan aku bisa meluapkan semua emosi dan kerinduan yang terbengkalai ini 

Kerinduan yang sudah lama tak terjamah
Kerinduan yang sudah lama tak kau lihat
Kerinduan yang sudah lama tak tergubris

Rasanya sudah lama semua rinduku tidak kau perhatikan, kau malah acuh tak acuh dengan rindu ini
Seakan akan rindu ini seperti kapas yang terbang karena tertiup dan terbawa entah kemana oleh hembusan angin, akhirnya kapas itu benar benar menghilang karena dibiarkan.
Tapi rinduku bukan kapas dan tidak seperti kapas yang begitu gampangnya terbang mengikuti kemana arah angin itu bertiup agar rinduku ini bisa enyah darimu
Rinduku tidak seringan kapas karena itu sekencang apapun angin yang kau tiupkan rinduku tidak akan terbang terbawa oleh angin yang kau tiupkan
Jika kau ingin tau seperti apa rinduku, aku akan jawab secara lantang bahwa rinduku seperti BATU

Kau tau bukan BATU itu seperti apa?
Sekecil apapun batu itu tidak akan terbawa oleh tiupan angin. sekalipun batu itu berada dipesisir pantai yang anginnya sangat kencang. Batu pun tidak akan berpindah jika tidak dipindahkan. Seperti rinduku, tidak akan berpindah pada orang lain jika kau tidak berusaha memindahkannya. Tapi rinduku tidak seperti batu kecil yang mudah kau pindah pindahkan, melaikan batu besar, jadi kau tidak akan bersusah payah memindahkan batu itu dengan tanpa alasan. Karena kau akan berpikir berulang kali untuk memindahkannya, karena untuk apa dipindahkan??

Tapi seperti yang kau tau, sekuat apapun batu itu lama kelamaan hingga pada waktunya batu itu akan terkikis.




Sabtu, 05 Oktober 2013

Penantian yang Tak Berujung

Rasanya ingin aku akhiri semua ini, ingin aku berhenti dalam penantian ini, ingin dan ingin. Tapi entah mengapa hanya ingin dan ingin tak kunjung kulakukan. Apa mungkin karena rasa cintaku yang tulus terhadapmu yang mengalahkan rasa inginku dan menghalangiku untuk berbuat seperti itu? atau mungkin karena... ah tak penting.

Tapi hati ini sakit, sakit sekali jika harus terus menahan rindu yang tak kunjung terobati. Aku tak memintamu untuk datang dan berada disanpingku, aku pun tak memintamu untuk melakukan hal apapun, permintaanku cukup sederhana, aku hanya ingin kau memdengarkan setiap keluh kesahku dan memperhatinkan ku itu saja. Jika kau tetap tidak bisa, aku bisa apa?? yang aku bisa hanya menanti, menunggu dan mengeluh seorang diri tanpa ada tanggapan dari mu. Sakit memang, hanya diingat saat waktu luangmu saja, seolah olah kau mengkesampingkan aku dan menganggap aku hanyalah pajangan semata yang hanya dilihat dan diperhatikan saat waktu santai saja saat kau sibuk dan tak ada waktu jangankan untuk memperhatikan melihatnya saja pun kau enggan.

Dan seperti biasa, malamku seperti malam malam sebelumnya. Tanpamu. Iya, ibarat malam tak berbintang. Kau tau malam tak berbintang itu seperti apa? Saat malam tak berbintag, hanya ada kegelapan dan seberkas cahaya rembulan yang sayup sayup tanpa adanya kerlip bintang. Apakah malam seperti itu indah? Tentu saja tidak! Dan seperti itulah gambaran diriku disaat kau tak ada entah kemana.

Jika kau tahu diri, kau tidak akan membiarkan aku melalui hari hari dengan malam yang seperti itu, malam yang hanya ada cahaya rembulan yang sayup sayup seperti enggan bersinar. Mungkin itu bisa menggambarkan dirimu disana yang engga memberi kabar. Cobalah sedikit untuk lebih peka terhadap perasaan seseorang

Jumat, 04 Oktober 2013

Menunggu?

MENUNGGU. Ya semua orang pasti tau bagaimana rasanya menunggu. Apapun yang ditunggu pasti menjenuhkan. Sudah bukan rahasia umum lagi jika menunggu itu membuat jenuh. Sekalipun menunggu seseorang yang amat kita cintai. Seberapa kuat pun kita menunggu ada kalanya rasa jenuh itu terbesit dalam benak. Meskipun hanya sepintas layaknya kilat.

Tapi kebanyakan orang lebih memilih mundur karena mengikuti rasa jenuh itu, mereka kalah dengan rasa jenuh yang datang untuk menguji seberapa kuat kita mampu bertahan untuk menunggu. Sulit memang memisahkan rasa jenuh dengan menunggu, 2 kata itu saling berkaitan satu sama lain. Jadi, sekuat apapun kita untuk memungkiri dan memisahkan 2 kata itu, hasilnya akan tetap sama. SULIT.

Menunggu seseorang layaknya kita menunggu orang yang terlambat datang sama sama menjenuhkan tapi..... (berbeda). Kenapa??!
Karena jika kita menunggu seseorang yang terlambat datang itu pasti orang tersebut akan datang tapi dalam keadaan orang tersebut terlambat. Beda halnya dengan menunggu someone special, kita tidak tau pasti dia akan kembali atau bahkan bisa saja dia pergi. Tapi kata kembali itu malah mempunyai arti ambigu. Kembali untuk kita atau kembali untuk memberi kekecewaan. Entahlah.....

Memang sulit mencari orang yang benar benar setia dan tulus menunggu, hanya ada sepersekian persen saja.  Mungkin perbandingannya 3:100. Karena tidak semua orang mampu bertahan dalam keadaan (menunggu). Malah terkadang orang yang benar benar tulus menunggu malah dikecewakan. Jadi, jika ada orang yag benar benar tulus menunggu maka kita adalah orang yang beruntung, karena tidak semua orang sanggup untuk menunggu, meskipun yang ditunggu adalah kekasihnya sendiri. Dan orang yang setia menunggu itu adalah orang orang yang hebat. Karena ia mampu menepis rasa jenuhnya dan tetap bertahan.